JurnalSOROT, Volume 10, Nomor 1, April 2015 halaman 1 - 142 Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Riau 19 | ISSN 1907-364X PENGGUNAAN METODE JIGSAW UNTUK MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR SOSIOLOGI Netti Ermi1 1SMA Negeri 4 Pekanbaru Abstrak Penelitian Tindakan Kelas ini bertujuan untuk mengetahui penggunaan metode Jigsaw dalam pelajaran Sosiologi materi konflik
AdalahCo.Id - Pengawasan adalah proses untuk menekankan bahwa semua kegiatan yang dilakukan sesuai dengan yang direncanakan sebelumnya. Selain itu, disebutkan bahwa pengawasan adalah pendekatan yang disusun secara sistematis untuk menentukan referensi pekerjaan dalam proses perencanaan sistem umpan balik informasi, mengkonfirmasi hasil kerja dengan referensi pekerjaan yang dibuat dan
Bermainadalah pilihan anak. Anak-anak memilih secara bebas sehingga apabila seorang anak dipakasa untuk bermain, sekali pun mungkin dilakukan dengan cara yang halus maka aktivitas itu bukan merupakan aktivitas dan bukan lagi bukan lagi kegiatan bermain atau non play. 3. Bermain adalah permainan yang menyenangkan.
Bagipara orang tua, sudah selayaknya mereka memberikan contoh-contoh kegiatan eksplorasi anak usia dini yang menarik supaya tumbuh kembang anak dapat dikawal dengan baik. Tumbuh kembang yang dimaksud ialah meliputi pertumbuhan fisik serta perkembangan otak dan mental agar menjadi anak yang kuat dan cerdas. Untuk melakukannya, kini tersedia banyak contoh kegiatan eksplorasi anak yang bisa []
menyampaikantujuan pembelajaran dan kegiatan pembelajaran yang akan dilakukan serta materi pokok yang akan dipelajari hari ini yaitu keanekaragaman suku, rumat adat dan pakaian adat yang ada di Indonesia. b) Kegiatan Inti (50 menit) Pada awal kegiatan ini, guru meminta para peserta didik untuk duduk kembali secara berkelompok.
7w4m.
Saat ini pembelajaran kolaboratif merupakan salah satu metode pembelajaran yang cukup populer diterapkan di sekolah maupun perguruan tinggi. Metode ini memungkinkan keterlibatan siswa secara aktif dalam proses belajar. Jadi, dalam suatu kelas, guru tidak terus menerus mengajar dan menjelaskan selama dua jam penuh. Beberapa manfaat dari metode pembelajaran kolaboratif ini adalah siswa menjadi lebih percaya diri, berani mengemukakan pendapatnya, dan mampu bekerja sama dengan teman-temannya. Mereka juga menjadi lebih mandiri saat belajar, tidak selalu disuapi’ oleh para guru. Berikut ini adalah aktivitas-aktivitas yang dapat membangun keaktifan siswa dalam berpartisipasi dan berkolaborasi di dalam kelas. Yuk, simak. Diskusi dengan teknik fishbowl Siswa sedang melakukan diskusi dengan teknik Fishbowl. Sumber Melalui teknik ini, setiap siswa akan berinteraksi dalam bentuk bertukar pengalaman dan informasi, serta memecahkan suatu permasalahan bersama. Seluruh siswa diharuskan berpartisipasi secara aktif, tidak hanya menjadi pendengar saja. Kegiatan ini dinamakan fishbowl karena orang yang mengamati jalannya diskusi seolah-olah sedang melihat ikan di dalam akuarium. Bagaimana aturan mainnya? Pertama-tama, siswa dibagi ke dalam dua kelompok, yaitu kelompok diskusi dan kelompok pengamat. Kelompok diskusi akan duduk pada lapisan dalam sebuah lingkaran sedangkan kelompok pengamat berada di lapisan luar. Setelah itu, guru memberikan topik untuk didiskusikan oleh kelompok diskusi. Di saat yang sama, kelompok pengamat harus mengamati jalannya diskusi. Mereka juga boleh mencatat hal-hal yang penting. Nantinya, kelompok pengamat juga akan diberikan waktu untuk berpendapat. Saat diskusi pertama selesai, siswa berganti peran. Mereka yang sebelumnya ada di kelompok diskusi kini akan menjadi kelompok pengamat dan sebaliknya. Kemudian, diskusi kedua dimulai. Bermain Siswa bermain minefield. Sumber Sebuah kolaborasi tentu tidak bisa dipaksakan, apalagi untuk siswa yang tergolong masih kecil. Oleh sebab itu, guru dapat mengajarkan siswa untuk berkolaborasi melalui permainan. Ada banyak permainan yang bermanfaat untuk melatih kemampuan kolaborasi siswa, lho. Salah satunya adalah permainan balloon bop. Dalam permainan ini, seorang guru akan membutuhkan beberapa balon. Siswa berdiri membentuk sebuah lingkaran sambil bergenggaman tangan. Kemudian, guru akan melempar balon-balonnya. Tugas siswa adalah melempar kembali balon tersebut sebelum jatuh ke tanah. Namun, mereka harus tetap berpegangan tangan. Siswa dapat melempar balonnya menggunakan tangan, kepala, dan bagian tubuh lainnya kecuali kaki. Melalui permainan ini, siswa dilatih untuk berkomunikasi dan bekerja sama. Permainan lainnya adalah minefield. Dalam permainan ini, seorang siswa akan ditutup matanya dan harus berjalan menuju suatu tempat. Teman-temannya dalam satu tim harus mengarahkannya sampai misi berhasil dicapai. Pada permainan ini, siswa akan berlatih kolaborasi secara efektif. Brainwriting Ide hasil brainwriting. Sumber Dalam metode pembelajaran kolaboratif, brainstorming merupakan sebuah aktivitas yang sering dilakukan. Namun, acapkali pada penerapannya brainstorming tidak cukup efektif. Tidak semua ide bisa diutarakan oleh siswa. Oleh karena itu, hasil diskusi bukanlah solusi atau ide terbaik. Brainwriting memungkinkan siswa untuk menuliskan idenya terlebih dahulu sebelum mulai berdiskusi. Ide tersebut dituliskan dalam post-it dan tidak diberi nama. Semua ide akan ditempel pada papan atau dinding agar dapat dilihat oleh seluruh siswa. Setelah itu barulah siswa diminta untuk mendiskusikan seluruh ide yang ada. Bahkan, dengan brainwriting, siswa bisa mengombinasikan dua ide berbeda menjadi ide baru yang lebih baik. Bercerita dengan metode Zoom Siswa bercerita secara bergiliran. Sumber Kegiatan ini mungkin sudah cukup sering dilakukan. Tanpa modal berarti, kemampuan kolaborasi siswa dapat terasah. Alat yang perlu disiapakan hanyalah sebuah gambar, bisa gambar apa saja. Kemudian, siswa pertama diminta untuk membuat cerita mengenai gambar tersebut. Selanjutnya, cerita akan dilanjutkan oleh siswa berikutnya. Begitu seterusnya. Melalui kegiatan ini, siswa dapat bebas berimajinasi dan secara tidak langsung berkolaborasi dengan teman-temannya untuk membangun sebuah cerita yang utuh dan logis. Melakukan proyek berkelompok Membuat karya dari kertas. Sumber Proyek yang dimaksud di sini adalah proyek singkat yang dapat diselesaikan dalam waktu 20 menit. Salah satu proyek yang dapat dilakukan adalah membuat prakarya. Pertama-tama, bagi siswa dalam beberapa kelompok. Setiap kelompok akan mendapat dua buah gunting, dua lembar kertas, sepuluh penjepit kertas, dan selotip. Instruksikan siswa untuk membangun menara setinggi-tingginya dengan alat tersebut. Batasi waktu kerja mereka dalam 20 menit. Aktivitas ini akan mengajarkan siswa untuk berpikir secara matang sebelum mengeksekusi suatu tugas. Mereka akan berpikir dan mengeksekusi pembangunan menara secara bersama-sama. Dengan demikian, mereka berlatih untuk menjadi pribadi yang kolaboratif. Itu dia lima kegiatan yang dapat menjadikan siswa mau berkolaborasi di dalam kelas. Aktivitas tersebut memang sengaja dibuat tidak terlalu akademik dengan harapan nantinya sifat kolaboratif akan tertanam di jiwa setiap siswa. Tidak apa-apa, kan, sejenak melakukan aktvitas menyenangkan di sela-sela belajar Matematika atau pelajaran lainnya? Yuk, coba terapkan kegiatan-kegiatan tersebut di kelas Anda. Jika Anda memiliki ide kreatif lainnya untuk diaplikasikan pada metode pembelajaran kolaboratif, jangan ragu untuk berbagi di kolom komentar. Share juga artikel ini ke guru-guru lainnya. Ayo BanggaJadiGuru! Guru bisa merekomendasikan siswa menggunakan ruanglesonline untuk melatih keterlibatan siswa secara aktif dalam proses belajar melalui live chat, sehingga BelajarJadiPraktis!AZN/TN
kegiatan aktivitas yang dilakukan hasil